Friday, December 19, 2025

Tamparan Realitas di Ibu Kota

 Tentang Meja Makan dan Masa Kecil yang Dicuri



Selama ini, aku pikir cerita tentang anak kecil yang harus mengais tempat sampah demi sesuap nasi itu cuman skrip drama di indosiar. Aku pikir, penderitaan selevel itu cuma ada di balik layar kaca yang sengaja dilebh-lebihkan buat narik simpati.

Sampai akhirnya, aku menginjakkan kaki di ibu kota dan bertemu dengannya.

Sebut saja dia kenalanku, seorang remaja 19 tahun. Kalau kamu lihat dia sekarang, dia kelihatan seperti orang dewasa pada umumnya, bahkan mungkin lebih dewasa secara mental dibanding kita semua. Dia bekerja keras, dan setiap pulang kerja, mamanya selalu setia menjemput. Kelihatannya normal, kan? Sampai kita mulai bicara tentang masa lalu.

Ketika Sampah Adalah Sumber Kehidupan

Dia bercerita, jauh sebelum dia mengenal bangku sekolah, dunianya bukan taman bermain. Dunianya adalah pinggir jalanan yang berdebu. Dia adalah anak yang kita labeli "gelandangan". Di usia saat kita mungkin masih merengek minta mainan, dia sudah dituntut untuk mencari sampah.

Yang paling memukul hatiku adalah ceritanya tentang makanan. Dia bilang, dulu dia bertahan hidup dengan makan apa saja yang dia temukan di tempat sampah.

Maka nggak heran, di usianya yang sekarang, dia punya cara menghargai makanan yang luar biasa, yang jujur, bikin aku merinding sekaligus sedih.

Bahkan kalau dia sudah makan 10 menu sekalipun dan perutnya sudah full, dia nggak akan pernah menolak kalau dikasih makanan lagi. dia akan makan "apa saja", bahkan sisa makanan kita pun nggak akan dia biarkan terbuang. What the hell, man... Di titik itu aku tersadar, trauma kelaparan di masa kecil itu bekasnya nggak akan pernah hilang. Makanan baginya bukan sekadar rasa, tapi simbol keberlangsungan hidup yang dulu pernah susah payah dia cari di tumpukan sampah.

Ayah yang "Hilang" dan Pernikahan Tanpa Persiapan

Pas aku tanya soal ayahnya, matanya berubah. dia nggak tahu ayahnya di mana, dan ada luka yang dalam di sana. "Ayahku miskin, dia nggak tanggung jawab," katanya.
Dia dan dua adiknya terpaksa hidup terlunta-lunta karena sosok yang seharusnya jadi pelindung justru menghilang entah ke mana setelah bercerai. 

Di sini, aku ngerasa emosi banget.

Boleh jujur nggak? Aku benci dengan keadaan kayak gini. Aku benci melihat orang dewasa yang memutuskan untuk menikah dan punya anak tanpa persiapan apa-apa. I mean, kalau kalian memutuskan untuk membangun rumah tangga, setidaknya harus punya arah, punya kesiapan mental dan finansial yang nggak nol banget.

Menikah dan punya anak itu bukan cuma soal tekanan sosial atau sekadar menuruti nafsu birahi. Ada nyawa manusia di sana. Ada masa kecil anak-anak yang jadi taruhannya. Egoisme orang dewasa yang nggak siap jadi orang tua itu efeknya bisa merusak seumur hidup seorang anak. T0l01 banget rasanya kalau kita masih menormalisasi "nikah dulu, urusan makan belakangan" kalau ujung-ujungnya anak yang harus memungut sampah di pinggir jalan.

Belajar dari Ketegaran yang "Terpaksa"

Sekarang, dia ikut mamanya. Dia tumbuh jadi sosok yang sangat mandiri dan dewasa. Tapi di balik kedewasaannya itu, aku tahu ada masa kecil yang dicuri. Ada anak kecil di dalam dirinya yang sebenarnya pengen cuma main tanpa harus mikir besok makan apa. 

Pertemuanku sama dia adalah tamparan keras. Mengingatkan aku untuk berhenti mengeluh soal hal-hal sepele. Dia mengajarkan aku bahwa bersyukur itu bukan cuma soal punya banyak hal, tspi soal menghargai apa yang ada di piring kita hari ini, seberapa pun kecilnya itu.

Buat kamu yang lagi baca ini, yuk tarik napas lagi. hargai makananmu. Hargai kesempatanmu untuk sekolah dan tumbuh dengan layak. Karena di luar sana, ada orang-orang hebat yang harus melewati "neraka" dulu hanya untuk bisa berdiri di posisi kita sekarang.



No comments:

Post a Comment

Tamparan Realitas di Ibu Kota

 Tentang Meja Makan dan Masa Kecil yang Dicuri Selama ini, aku pikir cerita tentang anak kecil yang harus mengais tempat sampah demi sesuap ...